Jumat, 17 Juli 2020
Selasa, 14 Juli 2020
Jumat, 10 Juli 2020
2 (dua)
Kalau bicara mengenai nomor 2, penulis punya satu kalimat yang selalu muncul waktu menulis ini ; self is enough, Si nomor 2 punya kemampuan mengenai diri sendiri yang selalu membuat penulis merasa cukup kagum dan agak kesal secara bersamaan. Penulis benar-benar tahu bahwa Si nomor 2 selalu merasa cukup senang dan bangga terhadap dirinya sendiri, walaupun gak ditunjukan secara terang-terangan, biasanya Si nomor 2 selipkan dalam candaan, dan ini menjadi satu hal yang penulis sebut self-love. Ketika penulis menyadari ini setelah beberapa waktu, penulis juga cukup sering melempar candaan yang bertujuan untuk menjatuhkan kebanggan diri Si nomor 2, dan untuk hal yang satu ini, penulis selalu ingin minta ampun dan menjelaskan bahwa hal tersebut semata-mata hanya didasari motif pelampiasan atas kekesalan karena penulis gak pernah punya cukup keberanian dalam mengikuti langkah Si nomor 2, iya, ini salah, dan memang tepat untuk mencerminkan implementasi dari peribahasa yang berbunyi 'iri tanda tak mampu'
Si nomor 2 sangat tahu apa yang benar-benar diinginkan oleh dirinya sendiri tanpa terganggu akan orang lain, namun secara bersamaan cukup mudah untuk dipengaruhi. Tapi garis bawahi, Si nomor 2 sangat tak suka dipaksa, memang gak ada orang yang suka, tapi kalau diibaratkan tahapan pembuatan bolu kukus, Si nomor 2 adalah proses pengukusan, ketidaksukaan terhadap suatu pemaksaan sudah mencapai tahap akhir. Si nomor 2 selalu tahu kapan waktunya untuk memilih menghindar atau terlibat dalam suatu hal, well played, Si nomor 2 benar-benar tahu kapan waktunya untuk tidak ikut campur.
Sebenarnya dari sudut pandang penulis, Si nomor 2 cukup sulit dipahami, sulit mengetahui apa yang sebenarnya sedang ia pikirkan, apa yang disukai dan tidak disukai. Penulis pernah terlibat suatu percakapan yang terbilang cukup absurd dengan Si nomor 2,
"Kau suka genre ini kan?"
"Iya, suka."
"Kalau yang ini? Suka juga?"
"Iya, suka."
"Loh, kok suka? Ini kan kebalikan dari genre sebelumnya, kapan lalu kau bilang gak terlalu suka?"
"Oh...iya ya? Tapi aku suka kok..."
Iya, Si nomor 2 suka bingung tentang apa yang sebenarnya dia sukai, kalau Si nomor 2 saja gak bisa menentukan kesukaan sendiri, apalagi penulis? Namun, daripada disebut 'suka bingung' penulis lebih suka menyebutnya 'denial', dikarenakan Si nomor 2 jarang menunjukkan hasil pemikirannya kecuali ada suatu pemicu yang cukup valid, entah itu mood, orang lain atau tuntutan keadaan. Si nomor 2 adalah sosok yang jarang ingin didengarkan, namun sangat suka mendengarkan sekitarnya, apa yang sedang tren, makanan, tempat hangout dan sejenisnya. Kalau untuk mendeskripsikan sosok remaja masa kini, penulis akan langsung memilih Si nomor 2.
Dalam memilih orang untuk dipercaya, penulis sempat dibuat merasa terasing karena Si nomor 2 adalah pribadi yang benar-benar cukup selektif, diam-diam penulis berharap kelak dapat menjadi salah satunya, mungkin bukan sekarang, walau penulis merasa cukup dekat secara personal dengan Si nomor 2, namun terkadang bisa jadi cukup jauh, sangat jauh.
Si nomor 2 termasuk tipe yang 'kemana aja ayo'. Ini merupakan salah satu ciri khas dan daya tarik dari Si nomor 2 yang paling penulis ingat. Hal ini membuat Si nomor 2 tidak terlalu punya banyak kenalan, namun dari yang penulis perhatikan, apabila menyangkut teman-teman atau orang yang pernah mengobrol dengan Si nomor 2, sosoknya bisa dibilang sulit diabaikan apalagi dilupakan, walaupun tidak bertemu secara intensif, namun penulis bisa merasakan bahwa ada ikatan kuat antara Si nomor 2 dengan orang-orang yang disebutnya teman.
Satu hal yang penulis percayai, Si nomor 2 adalah seorang pemikir dan cukup sensitif jika menyangkut kenyamanan diri sendiri, Si nomor 2 bisa digolongkan tipe santai dalam bersosialisasi, namun ini yang membuat orang sekitarnya sulit untuk mendeteksi apakah dari beberapa candaan yang sering dilontarkan ada yang membuat Si nomor 2 sakit hati? Atau memang Si nomor 2 cukup handal perihal mengendalikan diri dan memilah mana yang hanya cukup didengarkan tanpa harus dipikirkan dan hanya jadi beban? Karena saking santainya Si nomor 2 mengahadapi lingkungan sekitarnya, penulis juga sering dibuat bingung. Namun, apapun yang sedang kamu - Sinomor 2- pikirkan, caramu dalam berpikir dan menghadapi situasi, itu sepenuhnya hak dan milikmu. Walau demikian, penulis ingin Si nomor 2 tahu, tidak apa sesekali jujur dan menunjukkan apa yang sedang dirasakan di depan beberapa orang yang kamu percaya, karena hal sederhana seperti itu mampu membuat orang sekitarmu merasa berguna. Ah, atau memang kamu -Si nomor 2- begitu baiknya dalam mengendalikan perasaan sampai-sampai tidak ada seorangpun yang boleh tau? Kalau itu yang dapat membuat perasaan nyaman, maka tak apa, I appreciate that.
Sebenarnya penulis cukup ragu untuk menyampaikan hal-hal yang terlalu melibatkan perasaan, mengingat Si nomor 2 yang mungkin sangat tidak menyadari bahwa tulisan ini tengah mengisahkan tentang dirinya, dan penulis tahu kalau Si nomor 2 tidak terlalu menyukai pembahasan yang terlalu serius, karena sekali lagi, orang-orang selalu melihat Si nomor 2 sebagai sosok yang santai, atau penulis yang terlalu melebih-lebihkan? Tapi sekali lagi, kalau kamu yang sedang membaca dan merasa ini berlebihan, silahkan dibaca lagi Part 0 : Petunjuk demi kenyamanan bersama, karena apa yang penulis tuliskan semata-mata bukan untuk menyatukan sudut pandang 'kan?
Ini, untukmu Si nomor 2 :
“In everyone’s life, at some time, our inner fire goes out. It is then burst into flame by an encounter with another human being. We should all be thankful for those people who rekindle the inner spirit. Let them know some and you will know all"
Kamis, 09 Juli 2020
1 (satu)
Sebagai pembuka, penulis mau bercerita tentang sudut pandang penulis terhadap Si nomor 1.
Kalau digambarkan dengan beberapa dialog, mungkin si nomor 1 ini bakal jadi seperti :
"Hai..."
"Eh, halo."
"Kamu di kelas ini juga ya?"
"Hehe, iya nih."
"Kalau gitu ayo kenalan, aku Si nomor 1, aku suka ini dan itu, aku senang ini dan itu, aku juga punya hobi ini dan itu."
"Wah, sama dong. Aku juga suka ini dan itu, nah, kalau boleh tau, alamat rumah kamu dimana?"
"Ah, jauh haha...."
Nah, dari percakapan di atas, kamu pasti sudah bisa 'lah menebak, kira-kira orang seperti apa Si nomor 1 ini di mata penulis. Si nomor 1 memiliki pribadi yang akan membuatmu nyaman untuk bercerita tentang kesukaan atau idolamu. Kamu akan merasa antusias untuk ikut bercerita karena melihat ia yang juga antusias saat bercerita. Sebagai pendengar yang cukup baik, dia juga sangat suka didengarkan. Namun, seperti halnya kue lapis, kepribadian seseorang tidak terdiri dari satu warna saja. Ada kalanya penulis merasa tidak bisa terlalu dekat dengan Si nomor satu ini, coba lihat lagi dialog di atas, Si nomor 1 akan sangat senang ketika bercerita atau diceritakan mengenai sosok idola, namun karena seringnya hanya bercerita tentang hal-hal yang gak jauh dari itu, maka ketika kamu ingin membahas atau menanyakan sesuatu yang sifatnya lebih personal, jangan harap kamu bisa dapat jawaban yang konkret. Hal ini memang gak selalu terjadi, namun mengingat kepribadian penulis, tentu ini cukup membuat gak nyaman, gak nyaman dalam artian 'ouch, this is my limit', makanya sebisa mungkin penulis hanya jadi pendengar kalau Si nomor 1 sedang bercerita. Dia senang membagi keluh-kesahnya, tapi gak semata-mata untuk kita komentari, karena Si nomor 1 ini hampir selalu tau apa yang sebenarnya harus dia lakukan terhadap masalah pribadinya.
Si nomor 1 adalah sosok dewasa dalam mengambil keputusan dalam kegiatan kelompok, tanda kutip 'hanya kegiatan yang dia suka'. Si nomor 1 bakal terang-terangan bersikap bodo amat atau tim 'oke-oke aja' kalau dirasa kegiatan ini gak dia banget. Sosok Si nomor 1 di pikiran penulis adalah pencetus ide hebat, dan sangat paling bisa diandalkan. Ini yang selalu bikin penulis iri hati rendah diri, Si nomor 1 betul-betul tau apa yang harus dia lakukan, kalau diibaratkan kegiatan posyandu, dia ini jadi bidan kepala, gak pernah nganggur, cuy. Ini gak pernah bikin penulis gak kagum sama Si nomor 1. Sosoknya yang selalu mau kerja keras, kreatif dan lebih banyak bergerak langsung daripada bicara membuat Si nomor 1 secara gak langsung sering ditunjuk sebagai penasehat utama dan dimintai pendapat karena pendapatanya yang selalu on point.
Kepribadian Si nomor 1 yang straight forward patut diapresiasi, gampang untuk tahu kalau Si nomor 1 gak menyukai suatu hal, dia bakal langsung bilang, bersikap bodo amat, atau ogah-ogahan terhadap hal tersebut. Si nomor 1 bakal ngasih effort yang gak main-main kalau menyangkut sesuatu yang dia suka, tapi kalau dia ngerasa kalau dia gak cocok atau gak bakal bisa melakukan suatu hal, bukan berarti dia bakal ninggalin gitu aja, memang bakal keliatan kalau dalam proggres atau awal pengerjaan dia gak begitu meniatkan diri, tapi di akhir nanti, hasil kerjanya diam-diam penulis puji dalam hati, kenapa dalam hati? Karena Si nomor 1 ini selalu pesimis terhadap hasil kerjanya, kalau dipuji terang-terangan, yang ada malah tercipta perdebatan klise antar cewek seperti, "Wah bagus kali ini." "Ih, gak bagus loh, ini masih banyak yang kurang ini--" berakhir dengan penulis yang kebingungan karena penjelasan ala perfeksionis Si nomor 1 yang penulis tidak pahami. Tapi penulis gak mempermasalahkan hal ini, wajar kalau beberapa orang ingin yang terbaik, tapi penulis mau Si nomor 1 tau, di mata penulis, apapun hasil kerja Si nomor 1 yang pernah penulis puji, walau terkesan berlebihan cara memujinya, tapi itu jujur, selalu jujur, jadi lain kali jangan selalu hanya mencari 'kecacatan' dari hasil yang kamu -Si nomor 1- peroleh. You did well, always.
Gambaran terakhir mengenai cara dari Si nomor 1 bersosialisasi, setelah membaca bagian ini, mungkin akan ketahuan 'lah siapa sebenarnya Si nomor 1 ini, atau mungkin sudah ketahuan di pertengahan?
Cara Si nomor 1 bersosialisasi lagi-lagi dijadikan panutan oleh penulis, Si nomor 1 hampir selalu bisa ngobrol dengan orang-orang - baik orang baru atau teman dekatnya, dengan begitu nyaman dan leluasa, sama seperti caranya mengungkapkan pendapat, Si nomor 1 selalu tau cara mendengarkan pendapat orang lain, mungkin hal ini yang membuat banyak orang dengan senang hati mau jadi temannya, iya, Si nomor 1 ini paling punya banyak kenalan di antara 10 nomor lain, udah tahu kan siapa Si nomor 1 ini?
Diantara 10 nomor, sosok Si nomor 1 ini diam-diam penulis anggap sebagai sosok pemimpin, tapi jujur, penulis selalu merasa gak begitu dekat dengan Si nomor 1, hal ini semata-mata karena penulis merasa, walau punya banyak teman dan kenalan, Si nomor 1 hanya menetapkan beberapa orang saja untuk benar-benar bisa dipercaya dan jadi kawan bercerita, dan penulis bisa menghargainya.
Beberapa tahun ke depan, mungkin gak bisa dipungkiri kalau penulis dan Si nomor 1 hanya akan jadi sekedar teman say hi saja, people will come and go as time passed, terlepas dari itu, penulis akan selalu berterimakasih karena Si nomor 1 sudah mau singgah dan berbagi beberapa cerita, I owe you.
Ini ada sedikit pesan untukmu, Si nomor 1 :
Kalau digambarkan dengan beberapa dialog, mungkin si nomor 1 ini bakal jadi seperti :
"Hai..."
"Eh, halo."
"Kamu di kelas ini juga ya?"
"Hehe, iya nih."
"Kalau gitu ayo kenalan, aku Si nomor 1, aku suka ini dan itu, aku senang ini dan itu, aku juga punya hobi ini dan itu."
"Wah, sama dong. Aku juga suka ini dan itu, nah, kalau boleh tau, alamat rumah kamu dimana?"
"Ah, jauh haha...."
Nah, dari percakapan di atas, kamu pasti sudah bisa 'lah menebak, kira-kira orang seperti apa Si nomor 1 ini di mata penulis. Si nomor 1 memiliki pribadi yang akan membuatmu nyaman untuk bercerita tentang kesukaan atau idolamu. Kamu akan merasa antusias untuk ikut bercerita karena melihat ia yang juga antusias saat bercerita. Sebagai pendengar yang cukup baik, dia juga sangat suka didengarkan. Namun, seperti halnya kue lapis, kepribadian seseorang tidak terdiri dari satu warna saja. Ada kalanya penulis merasa tidak bisa terlalu dekat dengan Si nomor satu ini, coba lihat lagi dialog di atas, Si nomor 1 akan sangat senang ketika bercerita atau diceritakan mengenai sosok idola, namun karena seringnya hanya bercerita tentang hal-hal yang gak jauh dari itu, maka ketika kamu ingin membahas atau menanyakan sesuatu yang sifatnya lebih personal, jangan harap kamu bisa dapat jawaban yang konkret. Hal ini memang gak selalu terjadi, namun mengingat kepribadian penulis, tentu ini cukup membuat gak nyaman, gak nyaman dalam artian 'ouch, this is my limit', makanya sebisa mungkin penulis hanya jadi pendengar kalau Si nomor 1 sedang bercerita. Dia senang membagi keluh-kesahnya, tapi gak semata-mata untuk kita komentari, karena Si nomor 1 ini hampir selalu tau apa yang sebenarnya harus dia lakukan terhadap masalah pribadinya.
Si nomor 1 adalah sosok dewasa dalam mengambil keputusan dalam kegiatan kelompok, tanda kutip 'hanya kegiatan yang dia suka'. Si nomor 1 bakal terang-terangan bersikap bodo amat atau tim 'oke-oke aja' kalau dirasa kegiatan ini gak dia banget. Sosok Si nomor 1 di pikiran penulis adalah pencetus ide hebat, dan sangat paling bisa diandalkan. Ini yang selalu bikin penulis iri hati rendah diri, Si nomor 1 betul-betul tau apa yang harus dia lakukan, kalau diibaratkan kegiatan posyandu, dia ini jadi bidan kepala, gak pernah nganggur, cuy. Ini gak pernah bikin penulis gak kagum sama Si nomor 1. Sosoknya yang selalu mau kerja keras, kreatif dan lebih banyak bergerak langsung daripada bicara membuat Si nomor 1 secara gak langsung sering ditunjuk sebagai penasehat utama dan dimintai pendapat karena pendapatanya yang selalu on point.
Kepribadian Si nomor 1 yang straight forward patut diapresiasi, gampang untuk tahu kalau Si nomor 1 gak menyukai suatu hal, dia bakal langsung bilang, bersikap bodo amat, atau ogah-ogahan terhadap hal tersebut. Si nomor 1 bakal ngasih effort yang gak main-main kalau menyangkut sesuatu yang dia suka, tapi kalau dia ngerasa kalau dia gak cocok atau gak bakal bisa melakukan suatu hal, bukan berarti dia bakal ninggalin gitu aja, memang bakal keliatan kalau dalam proggres atau awal pengerjaan dia gak begitu meniatkan diri, tapi di akhir nanti, hasil kerjanya diam-diam penulis puji dalam hati, kenapa dalam hati? Karena Si nomor 1 ini selalu pesimis terhadap hasil kerjanya, kalau dipuji terang-terangan, yang ada malah tercipta perdebatan klise antar cewek seperti, "Wah bagus kali ini." "Ih, gak bagus loh, ini masih banyak yang kurang ini--" berakhir dengan penulis yang kebingungan karena penjelasan ala perfeksionis Si nomor 1 yang penulis tidak pahami. Tapi penulis gak mempermasalahkan hal ini, wajar kalau beberapa orang ingin yang terbaik, tapi penulis mau Si nomor 1 tau, di mata penulis, apapun hasil kerja Si nomor 1 yang pernah penulis puji, walau terkesan berlebihan cara memujinya, tapi itu jujur, selalu jujur, jadi lain kali jangan selalu hanya mencari 'kecacatan' dari hasil yang kamu -Si nomor 1- peroleh. You did well, always.
Gambaran terakhir mengenai cara dari Si nomor 1 bersosialisasi, setelah membaca bagian ini, mungkin akan ketahuan 'lah siapa sebenarnya Si nomor 1 ini, atau mungkin sudah ketahuan di pertengahan?
Cara Si nomor 1 bersosialisasi lagi-lagi dijadikan panutan oleh penulis, Si nomor 1 hampir selalu bisa ngobrol dengan orang-orang - baik orang baru atau teman dekatnya, dengan begitu nyaman dan leluasa, sama seperti caranya mengungkapkan pendapat, Si nomor 1 selalu tau cara mendengarkan pendapat orang lain, mungkin hal ini yang membuat banyak orang dengan senang hati mau jadi temannya, iya, Si nomor 1 ini paling punya banyak kenalan di antara 10 nomor lain, udah tahu kan siapa Si nomor 1 ini?
Diantara 10 nomor, sosok Si nomor 1 ini diam-diam penulis anggap sebagai sosok pemimpin, tapi jujur, penulis selalu merasa gak begitu dekat dengan Si nomor 1, hal ini semata-mata karena penulis merasa, walau punya banyak teman dan kenalan, Si nomor 1 hanya menetapkan beberapa orang saja untuk benar-benar bisa dipercaya dan jadi kawan bercerita, dan penulis bisa menghargainya.
Beberapa tahun ke depan, mungkin gak bisa dipungkiri kalau penulis dan Si nomor 1 hanya akan jadi sekedar teman say hi saja, people will come and go as time passed, terlepas dari itu, penulis akan selalu berterimakasih karena Si nomor 1 sudah mau singgah dan berbagi beberapa cerita, I owe you.
Ini ada sedikit pesan untukmu, Si nomor 1 :
“If ever there is tomorrow when we're not together… there is something you must always remember. You are braver than you believe, stronger than you seem, and smarter than you think. But the most important thing is, It is really ok if you couldn't do something that others can, don't force yourself, everyone is precious in their own ways, you are enough"
Petunjuk
Selamat datang di Canopus!
Disini ada aku, si penulis dan beberapa tulisan mengenai 10 angka yang mendeskripsikan orang-orang pilihannya.
Sebelum membaca lebih lanjut, penulis mau kamu tau bahwa ada beberapa isi dari tulisan yang mungkin agak sensitif, hehe, karena apa yang dituliskan bisa jadi tidak relevan dengan apa yang kamu rasakan, karena ini adalah sudut pandang penulis dan isinya ditulis dengan asas "sukak-sukak penulis". Isinya gak cuma tentang 'Dia ceria, baik, suka menolong', gak akan ada kata seperti itu di dalam tulisan ini. Setiap kepribadian yang disebutkan penulis akan selalu dilengkapi penjelasan yang dipaparkan secara mendetail. Jika kamu merasa tersinggung, simpan dulu sampai kamu selesai membaca keseluruhan isi dari tulisan ini, jadi santai saja, ya!
Langganan:
Postingan (Atom)
5 (Lima)
Maaf atas keterlambatan super ini, penulis masih berusaha untuk menyelesaikan seluruh nomor sebelum tahun yang cukup berat ini berakhir. ...









