Kalau digambarkan dengan beberapa dialog, mungkin si nomor 1 ini bakal jadi seperti :
"Hai..."
"Eh, halo."
"Kamu di kelas ini juga ya?"
"Hehe, iya nih."
"Kalau gitu ayo kenalan, aku Si nomor 1, aku suka ini dan itu, aku senang ini dan itu, aku juga punya hobi ini dan itu."
"Wah, sama dong. Aku juga suka ini dan itu, nah, kalau boleh tau, alamat rumah kamu dimana?"
"Ah, jauh haha...."
Nah, dari percakapan di atas, kamu pasti sudah bisa 'lah menebak, kira-kira orang seperti apa Si nomor 1 ini di mata penulis. Si nomor 1 memiliki pribadi yang akan membuatmu nyaman untuk bercerita tentang kesukaan atau idolamu. Kamu akan merasa antusias untuk ikut bercerita karena melihat ia yang juga antusias saat bercerita. Sebagai pendengar yang cukup baik, dia juga sangat suka didengarkan. Namun, seperti halnya kue lapis, kepribadian seseorang tidak terdiri dari satu warna saja. Ada kalanya penulis merasa tidak bisa terlalu dekat dengan Si nomor satu ini, coba lihat lagi dialog di atas, Si nomor 1 akan sangat senang ketika bercerita atau diceritakan mengenai sosok idola, namun karena seringnya hanya bercerita tentang hal-hal yang gak jauh dari itu, maka ketika kamu ingin membahas atau menanyakan sesuatu yang sifatnya lebih personal, jangan harap kamu bisa dapat jawaban yang konkret. Hal ini memang gak selalu terjadi, namun mengingat kepribadian penulis, tentu ini cukup membuat gak nyaman, gak nyaman dalam artian 'ouch, this is my limit', makanya sebisa mungkin penulis hanya jadi pendengar kalau Si nomor 1 sedang bercerita. Dia senang membagi keluh-kesahnya, tapi gak semata-mata untuk kita komentari, karena Si nomor 1 ini hampir selalu tau apa yang sebenarnya harus dia lakukan terhadap masalah pribadinya.
Si nomor 1 adalah sosok dewasa dalam mengambil keputusan dalam kegiatan kelompok, tanda kutip 'hanya kegiatan yang dia suka'. Si nomor 1 bakal terang-terangan bersikap bodo amat atau tim 'oke-oke aja' kalau dirasa kegiatan ini gak dia banget. Sosok Si nomor 1 di pikiran penulis adalah pencetus ide hebat, dan sangat paling bisa diandalkan. Ini yang selalu bikin penulis iri hati rendah diri, Si nomor 1 betul-betul tau apa yang harus dia lakukan, kalau diibaratkan kegiatan posyandu, dia ini jadi bidan kepala, gak pernah nganggur, cuy. Ini gak pernah bikin penulis gak kagum sama Si nomor 1. Sosoknya yang selalu mau kerja keras, kreatif dan lebih banyak bergerak langsung daripada bicara membuat Si nomor 1 secara gak langsung sering ditunjuk sebagai penasehat utama dan dimintai pendapat karena pendapatanya yang selalu on point.
Kepribadian Si nomor 1 yang straight forward patut diapresiasi, gampang untuk tahu kalau Si nomor 1 gak menyukai suatu hal, dia bakal langsung bilang, bersikap bodo amat, atau ogah-ogahan terhadap hal tersebut. Si nomor 1 bakal ngasih effort yang gak main-main kalau menyangkut sesuatu yang dia suka, tapi kalau dia ngerasa kalau dia gak cocok atau gak bakal bisa melakukan suatu hal, bukan berarti dia bakal ninggalin gitu aja, memang bakal keliatan kalau dalam proggres atau awal pengerjaan dia gak begitu meniatkan diri, tapi di akhir nanti, hasil kerjanya diam-diam penulis puji dalam hati, kenapa dalam hati? Karena Si nomor 1 ini selalu pesimis terhadap hasil kerjanya, kalau dipuji terang-terangan, yang ada malah tercipta perdebatan klise antar cewek seperti, "Wah bagus kali ini." "Ih, gak bagus loh, ini masih banyak yang kurang ini--" berakhir dengan penulis yang kebingungan karena penjelasan ala perfeksionis Si nomor 1 yang penulis tidak pahami. Tapi penulis gak mempermasalahkan hal ini, wajar kalau beberapa orang ingin yang terbaik, tapi penulis mau Si nomor 1 tau, di mata penulis, apapun hasil kerja Si nomor 1 yang pernah penulis puji, walau terkesan berlebihan cara memujinya, tapi itu jujur, selalu jujur, jadi lain kali jangan selalu hanya mencari 'kecacatan' dari hasil yang kamu -Si nomor 1- peroleh. You did well, always.
Gambaran terakhir mengenai cara dari Si nomor 1 bersosialisasi, setelah membaca bagian ini, mungkin akan ketahuan 'lah siapa sebenarnya Si nomor 1 ini, atau mungkin sudah ketahuan di pertengahan?
Cara Si nomor 1 bersosialisasi lagi-lagi dijadikan panutan oleh penulis, Si nomor 1 hampir selalu bisa ngobrol dengan orang-orang - baik orang baru atau teman dekatnya, dengan begitu nyaman dan leluasa, sama seperti caranya mengungkapkan pendapat, Si nomor 1 selalu tau cara mendengarkan pendapat orang lain, mungkin hal ini yang membuat banyak orang dengan senang hati mau jadi temannya, iya, Si nomor 1 ini paling punya banyak kenalan di antara 10 nomor lain, udah tahu kan siapa Si nomor 1 ini?
Diantara 10 nomor, sosok Si nomor 1 ini diam-diam penulis anggap sebagai sosok pemimpin, tapi jujur, penulis selalu merasa gak begitu dekat dengan Si nomor 1, hal ini semata-mata karena penulis merasa, walau punya banyak teman dan kenalan, Si nomor 1 hanya menetapkan beberapa orang saja untuk benar-benar bisa dipercaya dan jadi kawan bercerita, dan penulis bisa menghargainya.
Beberapa tahun ke depan, mungkin gak bisa dipungkiri kalau penulis dan Si nomor 1 hanya akan jadi sekedar teman say hi saja, people will come and go as time passed, terlepas dari itu, penulis akan selalu berterimakasih karena Si nomor 1 sudah mau singgah dan berbagi beberapa cerita, I owe you.
Ini ada sedikit pesan untukmu, Si nomor 1 :
“If ever there is tomorrow when we're not together… there is something you must always remember. You are braver than you believe, stronger than you seem, and smarter than you think. But the most important thing is, It is really ok if you couldn't do something that others can, don't force yourself, everyone is precious in their own ways, you are enough"

kok.. komentarku udh ga ada ya???
BalasHapusBun, is that you? I have never delete the comments unless you left a same comments twice.
Hapus