Jumat, 10 Juli 2020

2 (dua)


  Kalau bicara mengenai nomor 2, penulis punya satu kalimat yang selalu muncul waktu menulis ini ; self is enough, Si nomor 2 punya kemampuan mengenai diri sendiri yang selalu membuat penulis merasa cukup kagum dan agak kesal secara bersamaan. Penulis benar-benar tahu bahwa Si nomor 2 selalu merasa cukup senang dan bangga terhadap dirinya sendiri, walaupun gak ditunjukan secara terang-terangan, biasanya Si nomor 2 selipkan dalam candaan, dan ini menjadi satu hal yang penulis sebut self-love. Ketika penulis menyadari ini setelah beberapa waktu, penulis juga cukup sering melempar candaan yang bertujuan untuk menjatuhkan kebanggan diri Si nomor 2, dan untuk hal yang satu ini, penulis selalu ingin minta ampun dan menjelaskan bahwa hal tersebut semata-mata hanya didasari motif pelampiasan atas kekesalan karena penulis gak pernah punya cukup keberanian dalam mengikuti langkah Si nomor 2, iya, ini salah, dan memang tepat untuk mencerminkan implementasi dari peribahasa yang berbunyi 'iri tanda tak mampu'


  Si nomor 2 sangat tahu apa yang benar-benar diinginkan oleh dirinya sendiri tanpa terganggu akan orang lain, namun secara bersamaan cukup mudah untuk dipengaruhi. Tapi garis bawahi, Si nomor 2 sangat tak suka dipaksa, memang gak ada orang yang suka, tapi kalau diibaratkan tahapan pembuatan bolu kukus, Si nomor 2 adalah proses pengukusan, ketidaksukaan terhadap suatu pemaksaan sudah mencapai tahap akhir. Si nomor 2 selalu tahu kapan waktunya untuk memilih menghindar atau terlibat dalam suatu hal, well played, Si nomor 2 benar-benar tahu kapan waktunya untuk tidak ikut campur.

    Sebenarnya dari sudut pandang penulis, Si nomor 2 cukup sulit dipahami, sulit mengetahui apa yang sebenarnya sedang ia pikirkan, apa yang disukai dan tidak disukai. Penulis pernah terlibat suatu percakapan yang terbilang cukup absurd  dengan Si nomor 2,
"Kau suka genre ini kan?"
"Iya, suka."
"Kalau yang ini? Suka juga?"
"Iya, suka."
"Loh, kok suka? Ini kan kebalikan dari genre sebelumnya, kapan lalu kau bilang gak terlalu suka?"
"Oh...iya ya? Tapi aku suka kok..."
Iya, Si nomor 2 suka bingung tentang apa yang sebenarnya dia sukai, kalau Si nomor 2 saja gak bisa menentukan kesukaan sendiri, apalagi penulis? Namun, daripada disebut 'suka bingung' penulis lebih suka menyebutnya 'denial', dikarenakan Si nomor 2 jarang menunjukkan hasil pemikirannya kecuali ada suatu pemicu yang cukup valid, entah itu mood, orang lain atau tuntutan keadaan. Si nomor 2 adalah sosok yang jarang ingin didengarkan, namun sangat suka mendengarkan sekitarnya, apa yang sedang tren, makanan, tempat hangout dan sejenisnya. Kalau untuk mendeskripsikan sosok remaja masa kini, penulis akan langsung memilih Si nomor 2.

     Dalam memilih orang untuk dipercaya, penulis sempat dibuat merasa terasing karena Si nomor 2 adalah pribadi yang benar-benar cukup selektif, diam-diam penulis berharap kelak dapat menjadi salah satunya, mungkin bukan sekarang, walau penulis merasa cukup dekat secara personal dengan Si nomor 2, namun terkadang bisa jadi cukup jauh, sangat jauh.

    Si nomor 2 termasuk tipe yang 'kemana aja ayo'. Ini merupakan salah satu ciri khas dan daya tarik dari Si nomor 2 yang paling penulis ingat. Hal ini membuat Si nomor 2 tidak terlalu punya banyak kenalan, namun dari yang penulis perhatikan, apabila menyangkut teman-teman atau orang yang pernah mengobrol dengan Si nomor 2, sosoknya bisa dibilang sulit diabaikan apalagi dilupakan, walaupun tidak bertemu secara intensif, namun penulis bisa merasakan bahwa ada ikatan kuat antara Si nomor 2 dengan orang-orang yang disebutnya teman.

    Satu hal yang penulis percayai, Si nomor 2  adalah seorang pemikir dan cukup sensitif jika menyangkut kenyamanan diri sendiri, Si nomor 2 bisa digolongkan tipe santai dalam bersosialisasi, namun ini yang membuat orang sekitarnya sulit untuk mendeteksi apakah dari beberapa candaan yang sering dilontarkan ada yang membuat Si nomor 2 sakit hati? Atau memang Si nomor 2 cukup handal  perihal mengendalikan diri dan memilah mana yang hanya cukup didengarkan tanpa harus dipikirkan dan hanya jadi beban? Karena saking santainya Si nomor 2 mengahadapi lingkungan sekitarnya, penulis juga sering dibuat bingung. Namun, apapun yang sedang kamu - Sinomor 2- pikirkan, caramu dalam berpikir dan menghadapi situasi, itu sepenuhnya hak dan milikmu. Walau demikian, penulis ingin Si nomor 2 tahu, tidak apa sesekali jujur dan menunjukkan apa yang sedang dirasakan di depan beberapa orang yang kamu percaya, karena hal sederhana seperti itu mampu membuat orang sekitarmu merasa berguna. Ah, atau memang kamu -Si nomor 2- begitu baiknya dalam mengendalikan perasaan sampai-sampai tidak ada seorangpun yang boleh tau? Kalau itu yang dapat membuat perasaan nyaman, maka tak apa, I appreciate that.

   Sebenarnya penulis cukup ragu untuk menyampaikan hal-hal yang terlalu melibatkan perasaan, mengingat Si nomor 2 yang mungkin sangat tidak menyadari bahwa tulisan ini tengah mengisahkan tentang dirinya, dan penulis tahu kalau Si nomor 2 tidak terlalu menyukai pembahasan yang terlalu serius, karena sekali lagi, orang-orang selalu melihat Si nomor 2 sebagai sosok yang santai, atau penulis yang terlalu melebih-lebihkan? Tapi sekali lagi, kalau kamu yang sedang membaca dan merasa ini berlebihan, silahkan dibaca lagi Part 0 : Petunjuk demi kenyamanan bersama, karena apa yang penulis tuliskan semata-mata bukan untuk menyatukan sudut pandang 'kan?

     Ini, untukmu Si nomor 2 :


“In everyone’s life, at some time, our inner fire goes out. It is then burst into flame by an encounter with another human being. We should all be thankful for those people who rekindle the inner spirit. Let them know some and you will know all"



2 komentar:

5 (Lima)

  Maaf atas keterlambatan super ini, penulis masih berusaha untuk menyelesaikan seluruh nomor sebelum tahun yang cukup berat ini berakhir.  ...